بسم الله الرحمن الرحيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Di blog ini saya akan sedikit membahas tentang
pentingnya menuntut ilmu dan memberikan sedikit referensi hadis yang menguatkan
apa yang saya bahas.
منْ أَرَادَ الدُّنْيَافَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَهُمَافَعَلَيْهِبِالْعِلْمِ
Barang
siapa menginginkan dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, dan barang siapa
menginginkan (selamat dan berbahagia) akhirat, wajiblah ia memiliki ilmu, dan
barang siapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu
kedua-duanya pula". (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari
hadis ini kita mendapatkan gambaran atau asumsi bahwa setiap segala hal baik
urusan dunia ataupun urusan akhirat harus menggunakan dan ada landasan ilmunya.
contoh dalam hal berbisnis, kita dalam berbisnis harus mempunyai ilmu dalam bidang
tersebut agar kita tidak mengalami kerugian dalam berbisnis. sayangkan kita
berbisnis dengan modal yang besar tetapi megalami kerugian, oleh sebab tanpa
memiliki atau pun memahami ilmu bisnis. setiap pelaku bisnis berharap
mendapatkan untung yang besar dengan modal bisnis yang kecil tanpa memahami
keuntungan tersebut mengandug riba dan haram(merugikan orang lain). maka dari
itu penting pula ilmu akhirat yang memberi wawasan atau pencerahan tentang
hukum- hukum masalah tatacara berbisnis yang baik dan benar tanpa riba dan
haram.
Kita tidak akan rugi jikalau menuntut
ilmu, bahkan kita akan merasakan keuntungan yang lebih, baik itu dari sisi
dunia maupun sisi akhirat.
(مَْن سَلَكَ طَرِْيقًا َيلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا ِإلىَ اْلجَنَّةِ (رواه مسلم
Barang
siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan
baginya jalan ke surga (HR Muslim)
Dari sisi dunia sendiri
menuntut ilmu akan menambah wawasan dan semakin update sesuai tolak ukur dengan
perkembangan zaman yang semakin moderen, digitalis dan semakin instan.
Menurut Ali Akbar bin Aqil terbitan HIDAYATULLAH.COM disisi
akhirat sendiri menuntut ilmu juga tidak kalah penting terutama dibidang agama
atau ibadah. Sebab ibadah tanpa ilmu ditakutkan kita tidak akan bisa
melakukan dengan benar beragam perbuatan wajib, menjauhi perbuatan haram,
kemaksiatan, melaksanakan amalan-amalan sunnah, kecuali dengan dasar ilmu. Ilmu
menjadi landasan kita untuk melaksanakan kewajiban, meninggalkan larangan dan
menjauhi kemaksiatan sekaligus mengupayakan mengerjakan sunnah-sunnah dimana
semua itu dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala seperti yang
telah saya kemukakan di atas dan seperti pepatah yang disampaikan
oleh Albert Einstein "Ilmu tanpa Agama Buta, Agama Tanpa
Ilmu Lumpuh".
Ilmu yang baik juga
bisa menjadi suatu ladang pahala jariah bagi kita, apabila kita memberikan atau
mengamalakan kepada orang lain yang membutuhkan ilmu pengetahuan yang
kita miliki dan kemudian orang itu mengamalkan atau mengajarkan kepada orang
lain.
إِذَامَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ إِذَاثَلَاثَةٍ : إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍأَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ
“Apabila manusia telah meninggal dunia maka terputuslah semua
amalannya kecuali tiga amalan : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak
shalih yang mendoakan dia.” (HR. Muslim)
Kita semua pasti tahu kata Pepatah arab مَنْ جَدّ وَ جَدًّ
" siapa bersungguh -sungguh
pasti mendapatkan"
Dan ingat
dalam menuntut ilmu harus ada niat yang kuat dalam hati, kesungguhan dan usaha
yang keras. Perlu di ingat bahwasanya menuntut ilmu tidaklah mudah sobat.
Seperti anak bayi belajar berjalan, dia menagis karena tersandung dan terjatuh,
tetapi dia bangkit dan berusaha lagi untuk belajar berjalan kembali niat dan
keinginan yang kuat. Menuntut Ilmu pasti ada halangan dan rintangan yang
menghadang baik dari diri kita sendiri berupa hilangnya semangat, rasa bosan
lelah, ataupun dari lingkungan luar berupa keluarga, lingkungan dan pergaulan.
Untuk itu perlu juga memperbaiki niat dalam hati dan memperbaiki pergaulan
insaallah kalimat مَنْ جَدّ وَ جَدًّ akan
tercapai dalam menuntut ilmu,
عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Amal itu tergantung niatnya, dan
seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada
Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang
siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya,
maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari Muslim)
itu sedikit pengalaman saya.
Mungkin
sekian yang dapat saya sampaikan melalui Blog ini, maaf jikalau masih banyak
kesalahan serta kekurangan dalam penulisan atau penjabaran dikarenakan dalam
proses belajar dan masih kurangnya ilmu yang saya miliki.
Semoga bermanfaat dan membantu.
terimakasih telah berkunjung..
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ